Bab I: Pendahuluan
1. Apa Itu Aksara Pegon?
Aksara Pegon adalah sistem penulisan yang menggunakan huruf Arab tetapi dipakai untuk menuliskan bahasa non-Arab, khususnya bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Istilah "Pegon" berasal dari kata Jawa pégo yang berarti "menyimpang" atau "tidak lazim", karena penggunaan huruf Arab untuk bahasa lokal dianggap tidak umum oleh masyarakat awam.
Namun, Pegon bukan sekadar bentuk penulisan biasa. Ia adalah jembatan budaya antara dunia Islam dan tradisi lokal Nusantara. Dalam aksara Pegon, digunakan beberapa huruf tambahan (yang tidak ada dalam bahasa Arab asli) untuk mewakili bunyi-bunyi lokal yang tidak terdapat dalam bahasa Arab, seperti "pa", "ga", "nga", dan lain-lain.
Dengan demikian, aksara Pegon adalah wujud adaptasi kreatif masyarakat Muslim Nusantara untuk menyebarluaskan ajaran Islam, sastra, dan ilmu pengetahuan dalam bahasa mereka sendiri.
2. Sejarah Singkat Aksara Pegon
Aksara Pegon berkembang pesat seiring dengan masuk dan menyebarnya agama Islam di wilayah Jawa dan sekitarnya, terutama sejak abad ke-15. Para ulama, kiai, dan santri memanfaatkan aksara ini untuk menulis kitab-kitab keislaman dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Banyak naskah kuno, seperti serat, suluk, dan kitab kuning versi Jawa, ditulis dalam aksara Pegon. Pesantren-pesantren menjadi pusat utama penyebaran dan pelestarian tulisan ini. Aksara Pegon menjadi sarana pendidikan, dakwah, dan transmisi ilmu Islam di tengah masyarakat lokal.
Seiring modernisasi dan dominasi alfabet Latin, penggunaan aksara Pegon mengalami penurunan. Namun, belakangan ini, aksara Pegon mulai kembali dilirik sebagai bagian dari warisan budaya Islam Nusantara yang perlu dilestarikan dan diajarkan kembali.
3. Fungsi dan Manfaat Penulisan Pegon
Aksara Pegon memiliki banyak fungsi dan manfaat, baik dari sisi keilmuan, spiritual, maupun budaya. Beberapa di antaranya:
-
Media Dakwah dan Pendidikan Islam
Pegon digunakan untuk menulis terjemah kitab, catatan pengajian, dan karya keagamaan agar masyarakat lokal dapat memahami ajaran Islam dengan lebih mudah. -
Pelestarian Bahasa Daerah
Dengan Pegon, bahasa Jawa, Sunda, dan Madura dapat diabadikan dalam bentuk tulisan yang religius dan sarat makna. -
Identitas dan Warisan Budaya Islam Nusantara
Aksara Pegon menjadi ciri khas Islam Nusantara, yang membedakannya dari budaya Islam di belahan dunia lain. -
Sarana Literasi Tradisional
Pegon adalah bentuk literasi klasik yang mengajarkan kedisiplinan, ketelitian, dan nilai-nilai luhur dalam menulis dan membaca. -
Penguat Rasa Cinta terhadap Tradisi dan Agama
Menulis dan membaca dalam aksara Pegon bisa menjadi media penguatan iman dan kecintaan terhadap warisan ulama terdahulu.